PARA IMAM MEMBERI PENGAJARAN KARENA BAYARAN

Jumat, 05 Juni 2009 di 08.38

Refleksi dari Mikha 3:1-12

Menarik untuk diperhatikan bahwa setiap kali Tuhan murka atas umat Israel karena kebobrokan bangsa, yang diminta untuk bertanggung jawab oleh Tuhan adalah para imam dan nabi. Hal ini sangat berbeda dengan situasi negara kita, dimana para pemimpin gereja sangat memisahkan diri dengan urusan kenegaraan dan bangsa. Politik itu kotor, gereja itu suci, slogan itulah yang bergema di kalangan injili.

Nabi Mikha hidup di dalam jaman yang penuh dengan ketidakadilan dan kebobrokan moral terjadi dimana-mana. Saking parahnya dosa umat Tuhan dikatakan keluar dari tempat-Nya, turun berjejak di atas bukit-bukit bumi. (1:3). Seakan-akan Allah tidak tahan lagi melihat semua kejahatan yang terjadi sehingga Dia sendiri harus turun tangan menghukum umatNya. Saking murkaNya Allah penghukuman yang diberikan juga sangat dhsyat, dikatakan maka luluhlah gunung-gunung di bawah kakiNya, dan lembah-lembah terbelah seperti lilin di depan api, seperti air tercurah di penurunan. (1:4)

Semuanya ini terjadi karena pelanggaran Yakub, dan karena dosa kaum Israel. Pelanggaran Yakub itu apa? Bukankah itu Samaria? Dosa kaum Yehuda itu apa? Bukankah itu Yerusalem? Sebab itu Aku akan membuat Samaria menjadi timbunan puing di padang, menjadi tempat penanaman pohon anggur. Aku akan menggulingkan batu-batunya ke dalam lembah dan akan menyingkapkan dasar-dasarnya. (1:5-6). Itulah yang dikatakan oleh Tuhan mengenai umatNya. Semuanya kehancuran bangsa itu terjadi karena dosa mereka.

Namun yang menarik disini, Tuhan tidak hanya menyalahkan para pelaku politik praktis di Israel. Yang ditegur dengan keras oleh Tuhan adalah semua pemimpin Israel termasuk para imam dan nabi.

Kataku: Baiklah dengar, hai para kepala di Yakub, dan hai para pemimpin kaum Israel! Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan? Mereka merobek kulit dari tubuh bangsaku dan daging dari tulang-tulangnya; mereka memakan daging bangsaku, dan mengupas kulit dari tubuhnya; mereka meremukkan tulang-tulangnya, dan mencincangnya seperti daging dalam kuali, seperti potongan-potongan daging di dalam belanga. Mereka sendirilah nanti akan berseru-seru kepada TUHAN, tetapi Ia tidak akan menjawab mereka; Ia akan menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka pada waktu itu, sebab jahat perbuatan-perbuatan mereka. (3:1-4)

Siapa para pemimpin Kaum Israel? Siapakah mereka yang seharusnya mengetahui keadilan tetapi membenci kebaikan dan mencintai kejahatan? Siapakah orang-orang yang melakukan tindakan keji tersebut? Siapakah Mereka yang melakukan praktek kanibalisme dengan mengeksploitasi umat? Tentu saja bisa dengan mudah kita katakan bahwa mereka itu adalah para koruptor, pemerintahan yang kotor para pejabat yang sewenang-wenang dan seterusnya. Akan tetapi bisakah kita mengatakan bahwa di dalamnya termasuk para pemimpin Kristen? Para pendeta? Penginjil? Guru-guru agama Kristen? Dan semua orang awam yang menyebut diri mereka Kristen?

Beginilah firman TUHAN terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku, yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang. (3:5)

Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: "Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!" (3:11)

Inilah saat bagi para pemimpin Kristen bertanya pada diri sendiri. Masih adakah pemikiran Kristen yang biblika di dalam gereja. Bukan hanya apa yang disampaikan di dalam khotbah mimbar tetapi dalam setiap aspek pengajaran dan terutama kehidupan bergereja. Apakah sebenarnya kita telah mengadopsi cara pikir duniawi ke dalam kehidupan kekristenan kita seperti yang dilakukan para nabi dan imam di jaman Mikha? Apakah kita sedang mengusung relativisme moral, individualisme yang otonom, meterialisme atau modernisme yang seakan-akan menawarkan solusi bagi semua masalah? Apa yang menjadi dasar pemikiran dari pengajaran dan program-program gereja kita?

Para nabi dan imam di jaman Mikha dengan jelas melakukan banyak sekali penyelewengan dan bahkan dengan jelas dikatakan mereka mengkomersilkan jabatan nabi dan keimaman mereka. Dan itu merupakan akar dari kebejatan dan kebobrokan yang terjadi di Israel. Apabila situasi ini juga terjadi di gereja dan kehidupan kristiani secara umum di negara kita, maka kita tidak berhak menghakimi siapa pun atas apa yang sedang terjadi di Indonesia. Karena ternyata kita pun tidak lebih baik dari orang-orang yang kita nyatakan bersalah.

Teguran yang keras bagi para imam dan nabi ini juga tidak membebaskan para awam Kristen. Karena pada prinsip kita semua adalah imamat yang rajani. Kita semua memiliki tugas dan tanggung jawab bersama untuk menyuarakan pengenalan akan Allah, keadilan dan kebenaran di mana pun kita berada.

0 komentar

Posting Komentar

DWI MARIA | Powered by Blogger | Entries (RSS) | Comments (RSS) | Designed by MB Web Design | XML Coded By Cahayabiru.com